Selamat datang di duniagus.blogspot.com, kritik dan saran dapat ditujukan ke agus_1052@yahoo.co.id.

20 Juni 2008

Renungan untuk Piala Eropa

Demam piala Eropa tahun 2008 di Austria-Swiss sangat terasa dan melupakan masyarakat akan kenaikan BBM. Para penggila Bola atau di sebut bola mania memasuki piala Eropa mulai merubah gaya hidupnya, malam menjadi siang dan siang menjadi malam. yang jadi pertanyaan kenapa setiap piala Eropa berlangsung selalu disiarkan pada malam hari, tidak siang hari ???

Untuk yang belum tahu kenapa bisa ada piala Eropa, saya sedikit bercerita mengenai sejarah piala Eropa

Berawal dari ide Sekretaris Federasi Sepakbola Prancis (FFF) Henri Delaunay pada akhir dekade 1920-an. Kala itu, ia melihat kutub sepakbola dunia terbagi dua. Yakni, Eropa dan Amerika Latin. Ia telah melihat ada kepincangan di antara dua kutub itu, di mana negara Amerika Latin terlalu kuat bagi Eropa. Uruguay meraih medali emas di Olimpiade 1924 dan 1928. Bahkan, Uruguay ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia I tahun 1930 sebagai penghormatan atas prestasinya.

Untuk mengimbangi prestasi Uruguay dan negara Amerika Latin lainnya, Delauney ingin memperbanyak frekuensi pertandingan di Eropa. Caranya dengan menggelar kejuaraan antarnegara. Sayang, ide Delauney diabaikan UEFA (Uni Sepakbola Eropa). UEFA malah menggelar kejuaraan antarklub Eropa yang kelak dikenal sebagai Liga Champions, Piala UEFA dan Piala Winners mulai 1954.

Keputusan itu memukul Delauney sehingga pria kelahiran Paris 15 Juni 1905 itu jatuh sakit dan meninggal dunia pada November 1955. Hal ini membuat para pengurus UEFA tersentak. Dalam kongres UEFA 1957, barulah ide Delauney itu disetujui. Kongres juga memutuskan Prancis sebagai tuan rumah Piala Eropa 1960 sekaligus menghormati Delauney. Sebagai tuan rumah, Prancis langsung lolos ke putaran final. Babak penyisihan diikuti 17 negara. Dari kualifikasi itu loloslah Yugoslavia, Cekoslowakia dan Uni Soviet.

Di putaran final, Uni Soviet mengalahkan Cekoslowakia 3-0, sedangkan Yugoslavia mengalahkan tuan rumah Prancis 5-4. Dengan demikian, Uni Soviet jumpa Yugoslavia di final. Dalam partai final yang dimainkan di Stade de Frances, Paris, Yugoslavia unggul lebih dulu melalui Milan Galic. Keunggulan ini berlangsung cukup lama sehingga banyak yang mengira Yugoslavia bakal juara dan Soviet “habis”. Namun, beberapa menit sebelum pertandingan usai, Slava Metreveli menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pertandingan diperpanjang 2 x 15 menit. Saat itulah, sundulan Viktor Ponedelnik membuyarkan harapan Yugoslavia dan mengantarkan Soviet juara. Mungkin dari alam sana, si pemilik ide, Henri Delauney berkata,” Regardez C’est fantastique! C’est magnifique!” Lihatlah, betapa fantastis, betapa menariknya!

Nah.. untuk para penggila bola khususnya piala Eropa... kapan negara kita menjadi team yang solid yang bisa mengalahkan negara-negara Eropa ? Kita bangsa Indonesia bisanya hanya sebagai penonton dan penyelenggara saja... untuk tampil di kancah internasional.

Posting Terkait :



0 comments: