Selamat datang di duniagus.blogspot.com, kritik dan saran dapat ditujukan ke agus_1052@yahoo.co.id.

30 Januari 2008

Soeharto, Pahlawan atau Penjahat ?

H. M. Soeharto atau juga dikenal sebagai Haji Muhammad Soeharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 adalah Presiden Indonesia yang kedua, menggantikan Soekarno. Soeharto menikah dengan Siti Hartinah ("Tien") dan dikaruniai enam anak, yaitu Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek)

Karir militernya di mulai dari bergabungnya di KNIL (pasukan kolonial Belanda), setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, Soeharto bergabung di PETA (Pembela Tanah Air). Pada tahun 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dibentuk kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 diganti dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), Soeharto bergabung. Pada tanggal 1 Maret 1949, Soeharto (walaupun masih kontroversi) ketika itu masih berpangkat Letkol memimpin sebuah Serangan di Yogyakarta, serangan ini dikenal dengan nama Serangan Umum 1 Maret. Pada tahun 1961 Soeharto mencapai pangkat Brigadir Jenderal dan memimpin Komando Mandala yang bertugas merebut Irian Barat. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi Mayor Jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H Nasution. Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga tahun 1965.

Setelah jatuhnya Soekarno dari kursi kepresidenan dan jatuh pula Orde Lama, maka Soeharto pun mulai menampakkan diri dengan memasuki masa Orde Baru. Soeharto Presiden RI periode 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, 1983-1988, 1988-1993, 1993-1998. Pada periode 1993-1998, gelombang aksi massa yang dikomandoi mahasiswa terus berlangsung yang menuntut mundurnya presiden Soeharto. Dan akhirnya selang dua bulan menjabat Presiden pada periode ketujuh kepemimpinan lima tahunannya, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 lantaran didesak mundur, bahkan oleh Ketua MPR Harmoko yang mantan Menteri Penerangan dan dikenal sebagai pendukung setia Soeharto, berbagai kerusuhan massa yang tak terkendali, dan kegagalan Soeharto dalam membentuk Komite Reformasi karena tidak mendapatkan tanggapan dari tokoh-tokoh lain.

Desakan yang terus berlangsung dari masyarakat dan mahasiswa, maka pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.05 WIB di Istana Merdeka seusai silaturahmi antara jajaran pemerintahannya dengan pimpinan MPR/DPR dan fraksi-fraksi MPR/DPR, Presiden Soeharto memberikan pidato terakhirnya : “Oleh karena itu dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan DPR dan Pimpinan fraksi-fraksi, saya memutuskan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, hari Kamis 21 Mei 1998.

Wapres BJ Habibie di tempat yang sama mengucapkan sumpah jabatan sebagai Presiden menggantikan Soeharto di hadapan Mahkamah Agung. Pelantikan tak berlangsung di Gedung MPR/DPR karena “gedung rakyat” diduduki mahasiswa.
Pasca Soeharto lengser keprabon, tuntutan hukum terhadap dirinya atas berbagai kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) meskipun gencar dilakukan tetapi tak kunjung membuahkan hasil.

Setelah lengser ke prabon, kondisi kesehatan Soeharto juga tidak kunjung sembuh, segala macam penyakit dan segala macam pengobatan telah dilakukan. Sehingga akhirnya pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB, Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pertamina Pusat, yang kemudian dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo, Jawa Tengah.

Hingga saat ini, kasus-kasus Soeharto belum terselesaikan. Banyak kalangan yang menganggap Soeharto sebagai pahlawan pembangunan yang banyak menyumbangkan jasa-jasanya untuk negeri Indonesia, seperti pembangunan jalan tol, memajukan swasembada pangan yang berhasil pada tahun 1984, pembangunan industri dan pembangunan-pembangunan lainnya sampai-sampai bangunan punya orang lain dipinggirkan terlebih dahulu, katanya demi Pembangunan. Akan tetapi, banyak juga pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Soeharto selama 32 tahun berkuasa seperti memerintahkan kroni-kroninya untuk melakukan pembunuhan massal pada tahun 1965 sampai sekarang, penangkapan, penyiksaan, penyingkiran lawan politik, melakukan operasi DOM di Aceh, memerintahkan penangkapan orang-orang di Priok sampai-sampai menguasai aset negara atas nama yayasan yang padahal sih buat keluarga dan masih banyak lagi pelanggaran maupun penyimpangan yang dilakukan Cang Harto ini. Oleh karena itu ada sebagian masyarakat mengenang Soeharto sebagai penjahat bangsa.

Menurut Anda Bagaimana ????

Posting Terkait :



0 comments: